• Home
  • Nasional
  • Kejari Sukoharjo Siapkan Eksekusi Mati Yulianto Si Jagal 7 Nyawa

Kejari Sukoharjo Siapkan Eksekusi Mati Yulianto Si Jagal 7 Nyawa

Kamis, 15 April 2021 | 12:15
net
Ilustrasi penjara.
RIAUGREEN.COM - Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan peninjauan kembali (PK) tukang pijit di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pembunuh berantai 7 orang. Kini Kejaksaan Negeri (Kejari) Sukoharjo segera mempersiapkan eksekusi mati untuk pelaku bernama Yulianto itu.

Kepala Kejari Sukoharjo, Tatang Agus Volleyantono, mengatakan akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan Kejaksaan Agung. Namun menurutnya, persiapan hukuman mati membutuhkan waktu yang tidak singkat.

"Kami intinya sebagai jaksa penuntut umum termasuk tugas kami mengeksekusi. Setelah kami siap, lapor Kejagung. Dan persiapannya tidak sesederhana yang kita bayangkan," kata Tatang yang dilansir detikcom, Kamis (15/4/2021).

Dia tidak dapat memastikan kapan eksekusi mati dilaksanakan. Begitu pula soal lokasi eksekusi mati, Tatang juga belum memastikan apakah dilakukan di Lapas Nusakambangan, tempat Yulianto dipenjara saat ini.

"Belum bisa mengatakan kapan dilaksanakan, tapi mengarah ke situ dan pastinya akan kita siapkan. Sekarang yang bersangkutan di Lapas Nusakambangan. Nanti apakah mesti di sana atau di tempat lain belum tahu," ujar dia.

Di masa persiapan, tidak menutup kemungkinan jika pihak terpidana mengajukan grasi atau pengampunan dari presiden.

"Kadang masih ada yang mengajukan lagi (grasi). Kalau menginginkan ya kita akomodir," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Mahkamah Agung (MA) menjatuhkan hukuman mati kepada warga Sukoharjo, Jawa Tengah, Yulianto. Sebab, pria yang sehari-hari menjadi tukang pijit itu membunuh 7 orang secara berseri. Salah satu korbannya adalah anggota Grup 2 Kopassus Kandangmenjangan, Kopda Santoso.

Kasus bermula saat Yulianto meminjami uang Rp 40 juta kepada Sugiyono pada 2005. Saat ditagih, Sugiyono tidak mau membayar utang. Yulianto tersinggung dan menghabisi nyawa Sugiyono saat Sugiyono sedang dipijitnya. Yaitu dengan cara memberikan ramuan kecubung kepada Sugiyono. Setelah itu, mayat Sugiyono dikubur di samping kandang rumahnya.

Dua tahun kemudian, Yulianto menghabisi nyawa Suhardi saat Suhardi sedang bersemedi di Gua Cermai, Bantul. Mayat Suhardi dibiarkan di sebuah genangan air dan ditindih dengan batu besar.

Pembunuhan terus diulang hingga pembunuhan ketujuh, yaitu Kopda Santoso. Kala itu, Kopda Santoso datang ke Yulianto mau pijat badan. Saat pijat itu, Yulianto dan Santoso terlibat percakapan yang membuat Yulianto tersinggung.

Yulianto kemudian membuat ramuan jamu dan menyerahkan ke Kopda Santoso untuk diminum. Ternyata minuman itu sudah dicampur kecubung sehingga Kopda Santoso pusing dan sempoyongan. Yulianto mencekik Kopda Santoso hingga meninggal. Jenazah Kopda Santoso kemudian dikubur di dapur rumahnya.

Kematian Kopda Santoso membongkar kedok Yulianto. Akhirnya, aparat mengungkap si pembunuh berdarah dingin, Yulianto. Pria kelahiran 28 Juli 1973 itu akhirnya diproses secara hukum dan diadili di Pengadilan Negeri (PN) Sukoharjo.

Pada 20 April 2011, PN Sukoharjo menjatuhkan hukuman mati kepada Yulianto. Selama sidang pembacaan vonis yang dipimpin Dwi Yanto, Yulianto terlihat tegang dan sesekali mengusap air mata. Ruang sidang dipadati keluarga korban dan terdakwa ataupun teman-teman korban.

Hukuman mati itu dikuatkan Pengadilan Tinggi (PT) Semarang pada 5 Juli 2011. Kasasi yang diajukan Yulianto juga tidak membuahkan hasil. Ketua majelis Prof Velerina JL Kriekhoff dengan anggota Prof Rehngena Purba dan Zaharudin Utama menolak permohonan kasasi itu.

Upaya hukum terakhir dilayangkan ke MA, yaitu peninjauan kembali (PK). Tapi apa kata majelis?

"Menolak permohonan peninjauan kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali/Terpidana Yulianto bin Wir Sentono tersebut," kata ketua majelis Sri Murwahyuni yang tertuang dalam salinan putusan sebagaimana dilansir website MA, Rabu (14/5/2021).

Duduk sebagai ketua majelis Sri Murwahyuni dengan anggota Eddy Army dan Gazalba Saleh. Majelis menyatakan PK Yulianto ditolak dengan alasan Yulianto terbukti telah membunuh korban Sugiyo di rumahnya yang kemudian jasadnya dimakamkan di dekat kandang sapi. Pada 2007, terdakwa telah membunuh korban Suhardi di Gua Cermai Bantul, Yogyakarta, yang jasadnya dikubur di Gua Cermai.

"Pada tahun 2010, Terdakwa telah membunuh Kopda Santoso yang jenazahnya dikuburkan di dapur milik Terdakwa dan keseluruhan pembunuhan tersebut dilakukan dengan direncanakan lebih dahulu," ujar majelis PK.

Adapun empat korban lain tidak ditemukan karena dibuang di Gunung Merapi dan di gua di Parangtritis.(detik.com)

Loading...
BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Top