• Home
  • Meranti
  • LAMR Meranti Klarifikasi Terkait Perencanaan Pembangunan Balai Adat di Setiap Kecamatan

LAMR Meranti Klarifikasi Terkait Perencanaan Pembangunan Balai Adat di Setiap Kecamatan

Selasa, 23 Maret 2021 | 00:04
MERANTI, RIAUGREEN.COM -
Pihak Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kepulauan Meranti melakukan klarifikasi terkait perencanaan atau niat Bupati Kepulauan Meranti untuk membangun balai adat disetiap kecamatan. 

Sebagaimana diungkapkan Dewan Pimpinan Harian Ketua Dewan Pimpinan Harian (FPH) LAMR Kepulauan Meranti, Datuk Seri Muzamil Baharudin, bahwa persoalan itu muncul setelah ada pemberitaan bahwa salah satu organisasi masyarakat (Ormas) yang mendukung Bupati Kepulauan Meranti untuk mendirikan balai adat di kecamatan-kecamatan baru yang belum ada balai adatnya.

Datuk Seri Muzamil didpingi oleh 
Ketua Dewan Pimpinan Harian. Ketua I Datuk Agus Suliadi, 
3. Sekum DPH, Datuk Abdullah,
Bendahara Datuk Zamri. Hadir pengurus lainnya, Humas LAMR Datuk Jefri Hidayat Jakfar, 
Pengurus lainnya Datuk Herwan, Datuk Zulkifli, Datin Yeni Herayani.

"Silakan saja organisasi apapun yang ada di Meranti ini mendukung program bupati kah namanya, rencana bupati kah namanya, niat baik bupati kah namanya, silakan tetapi jangan menjatuhkan, mendeskriditkan, apalagi menyinggung organisasi lain terutama lembaga adat ini," ujar Datuk Seri Muzamil di Gedung LAMR Meranti Jalan Dorak.

Lebih jauh dikatakan Datuk Seri Muzamil, terkait niat baik Bupati Kepulauan Meranti H Muhammad Adil, SH untuk mendirikan balai adat di kecamatan yang belum ada balai adatnya sudah disampaikan saat bupati datang dan berkunjung ke LAMR beberapa waktu lalu dan pihaknya mendukung itu. Bahkan jauh sebelum bupati terpilih ia sudah bincangkan perkara itu dengan bupati sebelumnya Drs H Irwan M.Si

"Persoalannya kenapa dulu kita tidak membangun balai adat di kecamatan-kecamatan yang memang belum berdiri, karena kondisi waktu itu kantor camatnya pun belum ada," terang Datuk Muzamil di gedung LAMR Senin (22/3/2021) sore. 

Kata Datuk Muzamil lagi, Kantor-kantor camat di Kabupaten Kepulauan Meranti terpenuhi pada tahun 2020, kantor Camat Pulau Merbau dan Rangsang Pesisir. Ia menyikapi tentu rasanya tidak elok kalau kantor camatnya saja belum ada akan tetapi balai adat LAMR yang lebih dulu, tentu ini ada skala prioritas.

"Pemerintahan ditingkat kecamatan yang dalam hal ini kantor camat definitif tentu lebih penting dari balai adat. Bukan kami mengatakan kantor camat tidak penting tapi ini adalah tempat pelayanan masyarakat. Setelah terpenuhi kantor itu di tahun 2020, baru rasanya layak lah kalau balai adat kita bangun," ungkapnya.

Kemudian, sebut Datuk Muzamil lagi, tentang kabupaten sendiri sampai hari ini masih menempati kantor LAMR Kecamatan Tebingtinggi, pihaknya tidak terus mendesak kepala daerah dalam hal ini pemegang anggaran dan DPRD sebagai pengatur keuangan daerah melalui APBD dan RAPBD karena kantor bupati pun sampai hari ini masih menumpang kantor Camat Tebingtinggi, DPRD sendiri hari ini masih memakai mes Kabupaten Bengkalis. 

"Kalau kami dari lembaga adat egois rasanya jika mendesak untuk dibangunkan balai adat kabupaten, rasanya kurang tepat dengan situasi kita seperti ini," ucapnya disaat konferensi pers dengan awak media.

Terkait perencanaan untuk merehab balai adat yang sudah terbangun sejak Kabupaten Bengkalis itu sudah dimasukkan kedalam APBD tahun 2021 dan pengesahannya pada akhir November 2020 dengan nilai sekira Rp100 juta.

"Nilainya menurut kami itu sudah cukup untuk merehab kantor-kantor balai adat ditingkat kecamatan yang kondisinya sekarang kita tahu kurang baik. Kami tidak pernah di lembaga adat ini menganggu ormas, OKP apapun, silakan berbuat untuk kabupaten ini, silakan berkiprah bersama-sama untuk membangun kabupaten ini tapi sekali lagi saya pertegas, jangan menjatuhkan, mendeskriditkan, apalagi menjelekkan lembaga adat ini dan organisasi lain manapun, bermainlah kita diranah kita masing-masing," pungkasnya.

Disamping itu, Ketua I LAMR Kepulauan Meranti, Datuk Agus Suliadi bahwa meski tidak secara langsung pihaknya menyampaikan apresiasi tapi dengan hati merasa bangga dan mengapresiasi organisasi yang telah dibentuk, hanya saja dengan kekuatan yang ada, ia mengaku pihaknya belum mampu untuk membina dan memberi bantuan secara langsung kepada lembaga-lembaga maupun organisasi tersebut. 

"Ini hanya keterbatasan kita dalam memahami koridor berorganisasi, dalam memahami hak dan kewajiban, dalam memahami apa yang menjadi tugas, apa yang sebenarnya harus dihormati dalam sebuah lembaga. Lembaga adat ini adalah sebuah lembaga, dia bukan organisasi biasa dan dibentuk berdasarkan peraturan daerah, dia adalah sebuah lembaga adat," ungkapnya. 

Ia juga meminta apapun lembaga adatnya itu agar sama-sama menjaga lembaga adat ini. Diakuinya pihaknya adalah orang-orang yang diberikan amanah di lembaga adat ini yang dipaksakan untuk arif dan bijaksana, juga dipaksakan untuk sabar meski dari segi usia sebenarnya pun tidak jauh berbeda. 

"Kami harus berhadapan dengan kapolres, harus berhadapan dengan penegak hukum, berhadapan dengan orang-baru yang berusaha berkuasa di daerah ini, dan kami berusaha menyampaikan kepada mereka ini adalah jati diri Melayu dan itu tidak perlu kami sampaikan kepada masyarakat terus menerus. Makanya setiap pejabat daerah yang datang ke Kabupaten Meranti ini tetap berkunjung ke LAMR ini. Kami dipaksakan jadi orang pintar untuk memberikan tunjuk ajar disini, jadi kami berharap jangan bersikap kurang ajar kepada lembaga adat ini," ungkapnya. 

Ia juga mengaku bahwa pihaknya dipaksakan untuk memberikan tunjuk ajar kepada orang-orang yang sudah punya jabatan, orang-orang yang sudah tua, dan dipaksakan untuk memberikan tunjuk ajar begitu juga kepada perguruan-perguruan tinggi lainnya. 

"Jadi mohon keberadaan LAMR ini dihormati karena ini adalah milik kita semua, keberadaan LAMR ini adalah simbol melayu kita disini, tidak ada lagi yang dihormati ketika LAMR ini runtuh dan disitu nanti kita hilang bersama. Kami tidak pernah merasa bersaing apalagi tersaingi karena ini adalah rumah kita orang melayu dan kita jaga marwah kita bersama," pungkasnya.

Sementara itu pula, ditempat terpisah Panglima Gagak Hitam Riau, Yusri Yano mengucapkan rasa terima kasihnya kepada LAMR Meranti, bahwa pihaknya sangat bangga kepada LAMR Meranti.
Panglima Gagak Hitam Riau itu mengatakan kehadiran Organisasi Masyarakat (Ormas) Gagak Hitam di Kabupaten Meranti telah diakui keberadaannya setelah mendaftarkan diri di Kesbangpool tahun 2019 silam.

Sebagai ormas melayu Gagak Hitam Riau telah banyak berbuat dan membantu masyarakat,
Ormas Gagak Hitam Riau selalu mengangkat warisan budaya melayu di tanah jantan.

"Kegiatan sosial sering kita lakukan dari pengecatan tempat ibadah sampai pengecatan pagar Pemakaman umum yang ada di kabupaten Meranti. 
Kegiatan pembagian sembako dilakukan setiap hari jumat yang disalurkan Mutiara Gagak Hitam Riau," kata Panglima Gagak Hitam, Senin (22/03/2021) malam saat ditemui Wartawan RiauGreen.com di markas Gagak Hitam Jalan Kartini.

Dirinya juga mengatakan Ormas Gagak Hitam tidak pernah melecehkan apa lagi saling menjatuhkan.

"Pantang bagi kami sesama orang melayu saling menghujat dan saling dengki," tegasnya lagi.

Kepada wartawan, ia menyatakan pihak LAMR Meranti adalah bak orang tua yang bisa dituakan, ia juga mengakui bahwa, LAMR adalah lembaga tertinggi disetiap daerah bahkan pihaknya sangat menghormatinya, pihaknya pun membenarkan bahwa hubungan mereka sangat baik dengan LAMR, ia juga meminta dinasehati jika ada perlakuan pihaknya yang seharusnya ditegur.

"Pepatah melayu mengatakan, orang tua harus selalu memberikan contoh yang baik terhadap anaknya.
Orang tua harus bersikap bijak dalam mengambil sebuah keputusan.
Sebagai anak mesti senantiasa menghormati dan menghargai yang lebih tua," tutupnya. (usu)

Loading...
BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Top