• Home
  • Hukum
  • Pimpinan Ponpes yang Cabuli-Setubuhi Santriwati Disebut Layak Dikebiri Kimia

Pimpinan Ponpes yang Cabuli-Setubuhi Santriwati Disebut Layak Dikebiri Kimia

Rabu, 17 Februari 2021 | 17:13
dtc
Kiai S (tengah)
RIAUGREEN.COM - Pimpinan ponpes di Jombang, Kiai S (50) melakukan pencabulan dan persetubuhan terhadap santriwatinya. Kini ia dinilai memenuhi syarat untuk diberi hukuman tambahan kebiri kimia.

Karena, selain korbannya lebih dari satu, tersangka juga menjadi sosok yang seharusnya mendidik dan melindungi para santriwatinya. Seperti yang disampaikan Ketua Lembaga Pendampingan dan Perlindungan Anak (LP2A) Jombang, Muhammad Sholahuddin.

"Sudah layak dikebiri kimia. Karena korbannya lebih dari satu. Itu dilakukan di dalam konteks hubungan guru dengan murid. Dia (Kiai S) mempunyai keleluasaan untuk melakukan karena ada doktrin ketaatan dan kepatuhan. Kami berkepentingan mendorong itu (kebiri kimia) supaya menjadi pertimbangan majelis hakim," kata Sholahuddin saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (17/2/2021).

Ia menjelaskan, selama ini LP2A bekerja sama dengan Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2T-P2A) Kabupaten Jombang, untuk mendampingi para korban. Menurut dia, para santriwati yang menjadi korban perbuatan asusila Kiai S mengalami tekanan psikis.

"Ancaman fisik tidak ada, tapi tekanan secara psikis. Karena yang mereka pahami kiai adalah sosok yang harus dihormati, kiai ini meyakinkan santri bahwa melakukan itu (persetubuhan dan pencabulan) tidak apa-apa. Akhirnya santri dengan sangat terpaksa menerima perlakuan itu," terang Sholahuddin.

Untuk memberi hukuman tambahan kebiri kimia terhadap terdakwa perkara kejahatan seksual terhadap anak-anak, hakim berpedoman pada Pasal 81 ayat (7) UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Terlebih lagi, pemerintah telah mengesahkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 70 tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual Terhadap Anak.

PP ini menjabarkan kebiri kimia adalah pemberian zat kimia melalui penyuntikan atau metode lain untuk menekan hasrat seksual berlebih yang disertai rehabilitasi. Selanjutnya pada Pasal 5 diatur, kebiri kimia dikenakan untuk jangka waktu paling lama 2 tahun.

"Kebiri kimia akan membuat efek jera semakin nyata. Pelaku juga dipasangi chip sehingga bisa dikontrol. Undang-undang sudah ada memaksa penegak hukum taat pada undang-undang. Di Mojokerto dan Surabaya sudah memberi vonis kebiri kimia. Itu bisa menjadi yuris prudensi. Apalagi peraturan pemerintah tentang kebiri kimia sudah keluar. Artinya, undang-undang sudah harus dilaksanakan karena PP-nya sudah dikeluarkan," tegas Sholahuddin.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang Dr Tri Susilowati menilai, Kiai S layak diberi hukuman tambahan kebiri kimia sesuai hukum yang berlaku di Indonesia. Hanya saja menurut dia, pemerintah harus mempertimbangkan dampak kebiri kimia bagi terpidana.

"Sesuai aturan bisa saja (Kiai S dikebiri kimia). Apalagi anak-anak dilindungi Undang-undang Perlindungan Anak. Namun, saat undang-undang kebiri keluar, ternyata banyak pertimbangan lagi. Karena akibat dikebiri luar biasa. Jangan sampai akibat kebiri, pelaku menjadi seperti mayat hidup," jelasnya.

Tri berpendapat pasal yang disangkakan polisi terhadap Kiai S sudah bisa memberi efek jera. Yaitu Pasal 76E juncto Pasal 82 ayat (1) dan (2) dan Pasal 76D juncto Pasal 81 ayat (2) dan (3) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Hukuman terhadap tersangka bisa ditambah sepertiga dari 15 tahun penjara. Karena tersangka tergolong pendidik para korban.

"Kenapa ada unsur pemberatannya? Karena dia pendidik. Di dalam hukum pidana, masuk di UU Perlindungan Anak ada pemberatan apabila pelaku seharusnya pelindung korban. Misalnya gurunya, ortunya, kakaknya dan lainnya. Pidana ditambah lima tahun sehingga bisa jadi 20 tahun. Menurut saya itu sudah tepat," tambahnya.

Kiai S mencabuli dan menyetubuhi para santriwatinya pada 2019-2020. Sejauh ini polisi menetapkan 6 santriwati ponpes di Kecamatan Ngoro, Jombang sebagai korban. Petugas terus mengusut kasus ini karena jumlah korban diperkirakan mencapai 15 santriwati. Rata-rata usia korban 16-17 tahun saat dicabuli dan disetubuhi tersangka.

Pria beristri dan mempunyai anak ini memanfaatkan ketaatan santrinya untuk melancarkan pencabulan dan persetubuhan tersebut. Modus tersangka salah satunya dengan membangunkan korban pada tengah malam untuk menunaikan salat tahajud. Setelah korban salat, Kiai S lantas mencabuli korban di kamar asrama putri. Aksi bejat itu dilakukan tersangka saat korban tidur sendirian.

Selain itu, Kiai S juga mencekoki korban dengan doktrin yang menyimpang agar santriwati tersebut bersedia disetubuhi. Yakni doktrin soal alat kelamin perempuan adalah jalan yang mulia karena menjadi jalan lahirnya para pemimpin. Sehingga berhubungan layaknya suami istri adalah perbuatan yang mulia.(detilk.com)

Loading...
BERITA LAINNYA
Tiga Orang Tewas Ditembak di Kafe Cengkareng
Kamis, 25 Februari 2021 | 11:12
Pelaku Penganiayaan Diamankan Polsek Tapung
Kamis, 25 Februari 2021 | 11:05
BERIKAN KOMENTAR
Top