• Home
  • Dunia
  • Sejak Kudeta 1 Februari Jumlah Korban Tewas di Myanmar Mencapai 180 Orang

Sejak Kudeta 1 Februari Jumlah Korban Tewas di Myanmar Mencapai 180 Orang

Selasa, 16 Maret 2021 | 11:39
AP
Korban tewas aksi demonstrasi Myanmar terus bertambah
RIAUGREEN.COM - Pertumpahan darah terus terjadi di Myanmar. Sedikitnya 20 orang demonstran antikudeta tewas ditembak di Myanmar pada Senin (15/3). Protes dan kerusuhan terus memanas di Myanmar usai junta militer merebut kekuasaan enam minggu lalu.

Seperti dilansir AFP, Selasa (16/3/2021) usai militer Myanmar menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dari kekuasaan, ratusan ribu orang turun ke jalan untuk menuntut kembali ke demokrasi. Hampir setiap hari di seluruh penjuru negara, pasukan keamanan melakukan tindakan keras dengan menggunakan gas air mata, peluru karet dan peluru tajam terhadap pengunjuk rasa.

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), sebuah kelompok pemantau lokal yang melacak penangkapan dan korban jiwa, mengatakan sedikitnya 20 orang tewas dalam kekerasan hari Senin kemarin.

"Korban meningkat secara drastis," katanya dalam pernyataan Selasa (16/3), menambahkan bahwa lebih dari 180 orang telah tewas sejak kudeta 1 Februari.

Diketahui selain demonstran antikudeta, beberapa yang tewas adalah warga sipil yang bahkan tidak berpartisipasi dalam protes. Sebagian besar tewas di Myanmar tengah, sementara setidaknya tiga orang tewas di pusat perdagangan Yangon.

Menurut AAPP, kematian di Yangon termasuk dua wanita yang ditembak di rumah mereka ketika pasukan keamanan melepaskan tembakan ke jalan.

AFP secara independen telah memverifikasi 11 kematian.

Sebelumnya, kerusuhan hari Minggu (14/3) lalu menandai satu hari paling mematikan sejak kudeta sejauh ini, dengan AFP membenarkan sedikitnya 44 orang tewas dalam kerusuhan di seluruh negeri di hari itu, termasuk aksi pembakaran dan penjarahan pabrik-pabrik China.

Enam kota di Yangon ditempatkan di bawah darurat militer setelah kekerasan memanas pada Minggu (16/3).

Mereka yang ditangkap akan diadili oleh pengadilan militer, bukan pengadilan sipil, dengan hukuman mulai dari kerja paksa tiga tahun hingga eksekusi.

Kekerasan yang terjadi pada hari Minggu (14/3) tersebut juga mendapat kecaman keras dari China, yang mendesak Myanmar untuk "dengan tegas menghindari terulangnya insiden semacam itu".

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian menggambarkan kekerasan itu sebagai "keji".

China "sangat prihatin akan dampak terhadap keselamatan institusi dan personel China", katanya kepada wartawan di Beijing, menambahkan bahwa pasukan keamanan Myanmar telah memperkuat daerah di sekitar pabrik-pabrik yang didanainya.

Taiwan, sementara itu, menyarankan perusahaannya di Myanmar untuk mengibarkan bendera pulau itu agar tidak menjadi sasaran para demonstran antikudeta yang menargetkan pabrik China karena menganggap pemerintah China mendukung militer Myanmar. (detik.com)

Loading...
BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Top